Author: admin

  • BEM STAB BODHI DHARMA BERBAGI KEHIDUPAN LEWAT SETETES DARAH

    BEM STAB BODHI DHARMA BERBAGI KEHIDUPAN LEWAT SETETES DARAH

    BEM STAB BODHI DHARMA:
    BERBAGI KEHIDUPAN LEWAT SETETES DARAH

    “Manasa ce pasannena, yah karoti kayena vaca ca, kayasa vacasa
    ca, tam vadami maha-palam.”
    (“Siapa pun yang dengan pikiran murni, berbicara atau bertindak,
    maka kebahagiaan besar akan mengikutinya.”) ~ Dhammapada, 118.

    Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAB Bodhi Dharma kembali menggelar
    kegiatan donor darah untuk mendukung kebutuhan darah bagi Smiling Kid, rumah
    singgah yang merawat anak-anak penderita kanker. Acara yang berlangsung pada
    Minggu, 15 Desember 2024, di Lantai G Prasadha Jinadhammo ini merupakan wujud
    nyata kepedulian mahasiswa terhadap sesama. Donor darah kali ini adalah yang kedua
    kalinya dilakukan oleh STAB, mempertegas komitmen institusi dalam memberikan
    kontribusi bagi masyarakat. Kegiatan ini menarik perhatian masyarakat luas, termasuk
    mahasiswa, dosen, dan warga sekitar, yang berbondong-bondong datang untuk
    mendonorkan darah.

    Smiling Kid, sebagai penerima manfaat utama, sangat terbantu
    dengan darah yang terkumpul untuk mendukung perawatan anak-anak penderita
    kanker. Melalui kegiatan ini, STAB Bodhi Dharma juga ingin mengedukasi
    masyarakat tentang pentingnya donor darah sebagai bentuk aksi kemanusiaan. Dengan
    jumlah pendonor yang terus meningkat, kegiatan ini memberikan harapan baru bagi
    anak-anak yang membutuhkan.

    Kegiatan donor darah ini terlaksana dengan dukungan RS Pirngadi, yang
    menyediakan tim medis dan fasilitas kesehatan untuk memastikan proses berjalan
    lancar. Tenaga medis dari RS Pirngadi melakukan pemeriksaan kesehatan awal bagi
    para calon pendonor untuk memastikan kelayakan mereka. Yayasan Prasadha
    Jinadhammo turut memberikan dukungan, termasuk menyediakan lokasi acara yang
    nyaman dan strategis. Selain itu, panitia juga menyediakan makanan ringan dan
    minuman untuk pendonor sebagai bagian dari pemulihan pasca-donor. Semua
    prosedur dilakukan dengan standar kebersihan yang tinggi untuk menjaga keamanan
    dan kenyamanan. Kerja sama antara berbagai pihak yang terlibat menjadi kunci
    suksesnya acara ini.

    Darah yang terkumpul akan didistribusikan kepada pasien anak-anak penderita
    kanker di Smiling Kid, yang sangat membutuhkan transfusi darah secara rutin. Ketua
    STAB Bodhi Dharma, Ibu Mina Wongso, M.Psi, Psikolog menyampaikan
    apresiasinya kepada BEM, RS Pirngadi, Yayasan Prasadha Jinadhammo, dan semua
    pihak yang berkontribusi dalam kegiatan ini. Beliau juga mengungkapkan bahwa
    kegiatan ini sejalan dengan nilai-nilai ajaran Buddha tentang kasih sayang dan
    membantu sesama. Selain itu, donor darah juga diharapkan dapat meningkatkan
    kesadaran masyarakat akan pentingnya solidaritas dan aksi kemanusiaan. Dengan
    semangat gotong royong, kegiatan seperti ini menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan
    dapat memberikan dampak besar. Kegiatan ini pun diharapkan menjadi inspirasi bagi
    lembaga lain untuk melakukan hal serupa. STAB Bodhi Dharma terus berkomitmen
    untuk hadir dan berkontribusi bagi masyarakat melalui berbagai program sosial dan
    kemanusiaan.

    “Nobody can do everything, but everyone can do something.”
    (Tidak ada yang bisa melakukan segalanya, tetapi setiap orang bisa melakukan
    sesuatu.)
    ~ Max Lucado (Penulis Terkenal)

  • Meditasi Ajaran Buddha, Praktik Serta Manfaatnya

    Meditasi Ajaran Buddha, Praktik Serta Manfaatnya

    Meditasi Ajaran Buddha, Praktik Serta Manfaatnya

    Meditasi ajaran Buddha memiliki tujuan untuk kesehatan mental. Tidak hanya sekadar kesehatan mental, namun ketenangan dan kedamaian. Meski begitu, usaha mendapatkan kesehatan mental ini sering digunakan untuk ‘pelarian diri’.

    Meditasi yang sebenarnya tidaklah seperti itu. Berkat salah paham ini, sebuah aktivitas bertujuan murni malah mendapati makna merosot turun. Bahkan ada banyak pengkaitannya sebagai usaha memiliki kekuatan gaib.

    Dalam meditasi, terdapat dua jenis yang saling melengkapi. Pertama adalah Samatha atau penyatuan pikiran. Kedua adalah Vipassana yang merupakan pandangan terang atau memandang ke dalam.

    Secara singkat, Samatha berarti ketenangan, kesunyian, keheningan, ketentraman, kedamaian. Semua itu didapat dari penyatuan pikiran. Sedangkan Vipassana digunakan setelah mencapai Samatha untuk renungan kehidupan nyata.

    Praktik Meditasi Yang Benar

    Objek yang digunakan untuk meditasi ajaran Buddha dengan benar adalah kesadaran pada pernapasan (anapanasati). Penenang jiwa dan pikiran menggunakan irama tarikan napas sangat efektif untuk berkonsentrasi.

    Setiap saat, makhluk hidup bernapas. Tapi dari sekian banyak, jarang ada yang menyadari tarikan dan hembusan napas tersebut. Irama menenangkan lebih banyak terabaikan, dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

    Ketika bermeditasi menggunakan anapanasati, Anda berusaha memusatkan pikiran pada aliran penapasan alami. Ini berarti, napas tersebut dapat panjang atau pendek, berat ringan, cepat lambat, apapun ritmenya selama Anda menyadarinya.

    Konsentrasi harus sepenuhnya pada napas. Abaikan hal-hal di sekitar, lupakan apa yang harus dilupakan. Ritme napas dilakukan 10 sampai 15 menit sampai kedamaian itu tercapai.

    Manfaat Meditasi

    Ada banyak manfaat dari meditasi ajaran Buddha. Selain untuk memahami realitas sejati, menghentikan penderitaan, terdapat manfaat yang berhubungan dengan kesejahteraan hidup secara lahir dan batin.

    Kesadaran pernapasan berfungsi untuk menurunkan ketegangan saraf, mengurangi tekanan darah, dan memberikan semangat baru. Mengejutkan, anapanasati mempunyai efek luar biasa baik pada kedua otak jika dilakukan dengan benar.

    Tidak hanya itu, sangat banyak peneliti menunjukkan betapa bermanfaatnya meditasi, di antaranya:

    1. Kesehatan fisik dan mental yang membawa panjang umur.
    2. Mengatasi gejala pskosomatis.
    3. Membalik efek buruk dari gangguan fisik dan psikis.
    4. Menghilangkan stress.
    5. Memiliki keturunan.

    Meditasi sebagai sarana spiritual yang mendukung umat memperoleh ketabahan, kebijaksanaan, kedamaian, dan kedewasaan. Meditasi ajaran Buddha bukanlah sekadar pelarian dari kehidupan sehari-hari Anda menuju tempat sepi dan suram.

     

  • Jenis Meditasi Dalam Agama Buddha Dapat Membawa Ketenangan

    Jenis Meditasi Dalam Agama Buddha Dapat Membawa Ketenangan

    Jenis Meditasi Dalam Agama Buddha Dapat Membawa Ketenangan

    Terdapat dua jenis meditasi dalam agama Buddha. Di tradisi Buddhis, meditasi memiliki asal kata dari bhavana. Kata ini dapat berarti sebagai pembudayaan atau pengembangan mental.

    Maksud pengembangan mental dari bhavana merupakan pengembangan batin secara lebih luas, dengan tujuan membersihkan pikiran dari ketidakmurnian. Selain itu, mengusir gangguan seperti nafsu dan kebencian ataupun sikap negatif lainnya.

    Pengembangan mental yang diajarkan oleh Buddha terdapat dua jenis yaitu, Kosentrasi (Samadhi/Samatha); pemusatan pikiran. Lalu pandangan terang (Vipassana); tercapai ketika pikiran tenang digunakan untuk merefleksikan realitas.

    Stress, tegang, kebisingan adalah ciri dari jaman yang telah menimbulkan ketidaknyamanan. Bukan hanya itu, penyakit pun datang berdampingan seperti jantung, susah tidur, tegang saraf dan lambung.

    Meditasi Samatha

    Jenis meditasi dalam agama Buddha yang pertama ialah pencapaian ketenangan batin. Ketenangan ini didapatkan dengan cara memusatkan pikiran sebisa mungkin, sehingga terasa damai dan tentram.

    Jenis ini sudah ada bahkan sebelum jaman Buddha muncul. Walau bukan eksklusif milik ajaran Buddhis, namun ini tetap dipraktikkan karena merupakan bagian dari meditasi Vipassana.

    Berdasarkan kitab Visuddhimagga, penyatuan atau pemusatan pikiran dilaksanakan menggunakan 40 objek pengembangan mental. Ini disesuaikan dengan watak atau temperamen dari masing-masing manusia yang berbeda satu sama lainnya.

    Kemudian, subjek (kammatthana) disesuaikan dengan enam karakter dasar manusia yaitu, nafsu, dungu, percaya, kebencian, cerdas dan spekulatif. Semua ini layaknya seperti resep pengobatan segala macam penyakit.

    Meditasi Vipassana

    Jenis meditasi dalam agama Buddha berikutnya adalah Vipassana. Berasal dari bahasa Pali, Vipassana memiliki arti melihat ke dalam, kebijaksanaan atau pencerahan. Jenis ini adalah inti sari dari ajaran Buddha.

    Vipassana dilakukan bertujuan mencapai wawasan mendalam terhadap hakikat kenyataan dan Nirvana. Dengan metode analitis kesadaran penuh, waspada dan tajam, meditasi ini merupakan pengembangan mental Buddhis yang sesungguhnya.

    Penjelasan mengenai Vipassana terdapat dalam satipatthana sutta yang merincikan perenungan pada empat hal, yaitu:

    1. Tubuh (Kaya)
    2. Perasaan dan sensasi-sensasi (Vedana)
    3. Pikiran/budi (Citta)
    4. fenomena (Dhamma)

    Pengembangan mental ini tidak membawa Anda lari dari kehidupan, malah membawanya ke dalam jantung kehidupan. Untuk mendukung empat hal di atas, Anda harus memiliki mental berkualitas.

    Terlepas dari pengembangan batin dan tujuan pandangan terang, meditasi memiliki manfaat di jaman yang semakin berkembang pesat. Dua jenis meditasi dalam agama Buddha mampu mengatasi berbagai macam masalah.

     

  • Karma Dalam Ajaran Buddha, Dua Babak Hukum Karma

    Karma Dalam Ajaran Buddha, Dua Babak Hukum Karma

    Karma Dalam Ajaran Buddha, Dua Babak Hukum Karma

    Hukum karma dalam ajaran Buddha merupakan petunjuk penting dalam agama. Petunjuk ini begitu luas dan berbelit-belit yang membutuhkan penguraian terperinci untuk memahaminya. Secara umum, karma berfaedah perbuatan.

    Dalam ajaran Buddha, karma merupakan hukum kosmis tentang sebab dan akibat yang juga adalah babak moral lebih ke arah impersonal. Menurut hukumnya, untuk hidup maupun tidak akan muncul oleh sesuatu.

    Maksudnya adalah, tidak benar jika sesuatu dapat muncul dari sebuah ketiadaan atau kekosongan. Pernyataan seperti ini berhubungan dengan penjelasan teori relativitas tentang lahirnya alam semesta.

    Petunjuk menjabarkan keyakinan berdasarkan kebenaran Tuhan Yang Maha Esa sebagai Yang Suci, Mulia, Impersonal dan Agung. Sedangkan dalam Dhamma, dijelaskan dengan hukum universal karena dampak relativitas impersonal.

    Hukum Dalam Babak Kosmis

    Hukum karma dalam ajaran Buddha dapat dilihat dari dua babak yaitu salah satunya babak kosmis. Hukum dalam babak kosmis melingkupi alam fisik dan psikis.

    Itu berarti, makhluk hidup adalah fenomena materi. Adanya manusia dan hewan merupakan fenomena relatif. Ini dikarenakan dapat merasakan perubahan kemunculan dan hilang, segala sesuatu di alam.

    Begitu juga dengan alam, merasakan babak perubahan muncul lalu hilang. Sama halnya seperti alam semesta dengan banyak galaksi di sana, serta tata surya tidak terhitung jumlahnya, turut mengalami babak tersebut.

    Yang perlu diperhatikan adalah, walaupun babak kosmis demikian, namun itu hanya berupa implikasi dari sebagai hukum sebab dan dampak. Yang selanjutnya paling penting dalam hukum karma adalah babak moral.

    Hukum Dalam Babak Moral

    Di babak moral, hukum karma dalam ajaran Buddha memegang peranan sebagai petunjuk etika Buddhis. Petunjuk ini tercermin dengan sangat jelas di dalam semua petunjuk yang telah Buddha sampaikan selama hidupnya.

    Babak moral lebih menitik beratkan pada perbuatan manusia melalui tindakan jasmani, pikiran dan ucapan. Perbuatan tersebut digolongkan sebagai karma bila dilakukan dengan niat atau keinginan yang benar.

    Tindakan tanpa niat sama saja bukan karma. Perbuatan tersebut tidak menghasilkan dampak moral untuk pelakunya. Karma dalam babak moral mengandung nilai etika berpegangan pada kebenaran dan keburukan.

    Prinsip landasan hukum karma berupa siapa saja yang menanam, maka dia akan memetik hasilnya. Apakah hasil tersebut baik atau tidak, tergantung apa yang sudah ditanam.

    Jika telah memainkan karma buruk, pasti akan menderita karena menerima hasil yang buruk pula. Tidak mungkin terhindar dari hasil tidak menyenangkan yang terlahir dari karma dalam ajaran Buddha.

     

     

     

     

  • Daftar Sekolah Buddhis di Tanggerang dan Jakarta

    Daftar Sekolah Buddhis di Tanggerang dan Jakarta

    Daftar Sekolah Buddhis di Tanggerang dan Jakarta

    Daftar sekolah buddhis Indonesia masihlah sedikit. Namun tidak berarti sekolah keagamaan Buddha tidak berkembang. Kehadiran sekolah-sekolah khusus merupakan bukti bahwa penganut agama Buddha semakin diakui serta mendapatkan perhatian penuh.

    Dengan adanya tempat belajar khusus agama Buddha, diharapkan dapat memberikan kontribusi positif untuk negara. Selain itu, para generasi muda penganut agama Buddha bisa memperdalam ilmu sekaligus menerapkannya.

    Lulusan pendidikan buddhis akan dididik agar mampu mengamalkan pesan moral Buddha secara luas di setiap bidang. Selain itu, siswa juga dipersiapkan untuk berbakti pada masyarakat, bangsa dan negara.

    Hingga saat ini, sudah ada beberapa tempat belajar keagamaan Buddha yang tersebar di Indonesia. Dua lokasi di antaranya adalah Tanggerang dan Ibu Kota indonesa, Jakarta.

    Sekolah Buddhis di Tanggerang

    Di Indonesia terdapat lima agama yang diakui oleh negara, salah satunya adalah agama Buddha. Agama Buddha sendiri terus meluas sejak jaman kerajaan Sriwijaya di Nusantara hingga sampai saat ini.

    Daftar Sekolah Buddhis sudah ada dari tingkat terendah sampai tertinggi. Dari sekian banyak yang tersebar, beberapa terdapat sekitar wilayah Tanggerang dan Tanggerang Selatan, berikut daftarnya:

    1. Play Group Buddhis Bodhicita.
    2. SMP Swasta Perguruan Buddhis.
    3. Ehipassiko School BSD. Jalan Letnan Sutopo Kavling B2 No 2-1 Sektor XIV Bumi Serpong Damai, Kota Tangerang Selatan, Propinsi Banten.
    4. Atisa Dipamkara School Lippo.
    5. Dharma Widya School.
    6. Ehipassiko School. Jalan Kompleks SD Nomor 1, RT 005, RW 0003.
    7. Ariya Metta Elementary School.
    8. Jaya Manggala School.
    9. SD Harapan Bangsa.
    10. SD Dharma Putra.
    11. STIB Dharma Widya.

    Bukan hanya soal-soal teori, materi yang diberikan juga mencakup praktek dan penerapannya dalam kehidupan. Hal ini menyangkut pembentukan karakter positif, baik, sabar, dan mandiri dalam kehidupan sehari-hari.

     

    Daftar Sekolah Buddhis di Jakarta

    Tidak hanya di Tanggerang, daftar sekolah buddhis juga ada sekitar wilayah Ibu Kota, Jakarta. Sekolah Buddha ini tersebar dari Jakarta utara, Selatan, Timur, Barat dan Jakarta Pusat.

    1. Tri Ratna School.
    2. Sekolah Tinggi Agama Buddha.
    3. SMK Sinar Darma.
    4. Internasional Narada School.
    5. Darma Suci TK SD, SMP dan SMA.
    6. Junior High School Budhi Darma.
    7. Sekolah Mahabodhi Vidya.
    8. Yayasan Buddhis Theravada Indonesia.
    9. SD Dhammasavana.
    10. Nalanda Buddhist College.
    11. Narada Elementary School.
    12. Dharma Bangsa School.
    13. Taman Kanak-Kanak Silaparamita.
    14. STIB Dutavira.
    15. Cinta Kasih Tzu Chi School.

    Siswa siswi juga akan diberikan pendidikan akhlak serta pembentukan karakter sesuai ajaran Dharma. Saat ini, kiprah dari daftar sekolah Buddhis di atas termasuk sangatlah baik.

    Tempat pembelajaran agama semakin berkembang di Indonesia. Jenjang yang diberikan tidak berhenti di level terbawah, melainkan sampai ke jenjang perguruan tinggi negeri. Prestasi daftar sekolah Buddhis tidak dapat diabaikan lagi.

  • Sriwijaya, Tempat Pendidikan Buddha Pertama di Nusantara

    Sriwijaya, Tempat Pendidikan Buddha Pertama di Nusantara

    Sriwijaya, Tempat Pendidikan Buddha Pertama di Nusantara

    Sejak jaman kerajaan Sriwijaya, tempat pendidikan Buddha telah ada. Bukan hanya ada di Nalanda, India, namun sekolah keagamaan sudah ada di Nusantara berawal dari kerajaan Sriwijaya.

    Sama halnya dengan yang ada di situs kuno Nalanda India, Indonesia juga memiliki bangunan kuno. Bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat belajar dan asrama bagi pendeta.

    Sejak awal masehi, pusat pembelajaran di India telah muncul. Ini ditandai oleh adanya situs Piprahwa, situs Nagarjunakonda, situs Ganwaria, dan situ Nalanda pada pemerintahan Gupta.

    Periode Pala abad 8 akhir hingga abad 11 akhir, terdapat tradisi Nalanda yang berperan penting. Saat Pala dalam masa kejayaan, Buddha menjadi praktik dan ajaran resmi kerajaan.

    Pada periode ini, telah banyak didirikan vihara sebagai pusat pendidikan, dengan Nalanda sebagai acuan. Pusat-pusat itu pula yang memberikan pengaruh perubahan ajaran Buddha Nusantara.

    Tempat Pendidikan Masa Sriwijaya

    Menurut I-Tsing, seorang pengelana yang datang untuk belajar ke tanah Sriwijaya, menyatakan bahwa adanya tempat pendidikan Buddha sekitar wilayah kekuasaan Foshi. Tepatnya lokasi ini disebut dengan Suvarnadivipa atau bernama Sumatera.

    Berdasarkan prasasti India, bahwa ditemukan hubungan bilateral Raja Pala dan keturunan dari Syailendra. Sriwijaya membangun vihara di Nalanda demi kepentingan pengembangan pendidikan Nusantara.

    Setelah dilakukan pencarian, ditemukanlah situs Muaro Jambi. Diketahui, kawasan ini telah ada sejak 7-12 M bersamaan dengan keberadaan Sriwijaya dan Melayu Kuno di pulau Sumatera.

    Dengan adanya situs ini, menunjukkan betapa ajaran Buddha telah berkembang di bumi Nusantara, bersamaan tempat belajar. Lokasi yang dipakai untuk pusat pendidikan, juga merupakan tempat tinggal para biksu.

    Tempat Pendidikan Masa Sekarang

    Perkembangan tempat pendidikan Buddha tidak berhenti di masa Kerajaan Sriwijaya. Hingga detik ini, terdapat beberapa lokasi belajar tersebut ada di Indonesia, terutama perguruan tinggi, yaitu:

    1. Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Bodhi Dharma Medan
    2. STAB Negeri Raden Wijaya
    3. STAB Negeri Sriwijaya
    4. STAB Kertarajasa
    5. STAB Maha Prajna
    6. STAB Maiteyawira
    7. STAB Dharma Widya
    8. STAB Samathabadra
    9. STAB Nalanda
    10. STAB Syailendra
    11. STIAB Jinarakkhita
    12. STIAB Smaratungga

    Sekolah ini ada dua jenis, sekolah asrama dan tidak. Tujuan dibangunnya sekolah buddhis untuk menciptakan tenaga pendidik di Indonesia. Terutama pastinya selain Guru agama buddha yang kompeten, diharapkan tempat pendidikan Buddha bisa melahirkan generasi yang taat pada ajaran Buddha.

     

     

  • Kualitas Guru Agama Buddha, Profesi Pendidikan di Indonesia

    Kualitas Guru Agama Buddha, Profesi Pendidikan di Indonesia

    Kualitas Guru Agama Buddha, Profesi Pendidikan di Indonesia

    Guru agama Buddha merupakan salah satu faktor penentu utama dalam kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Buddha. Hal ini disebabkan pendidik merupakan sosok yang akan mengelola pembelajaran di ruang kelas.

     

    Demi mencapai tujuan pembelajaran, kompetensi pendidik haruslah dikedepankan. Diharapkan pendidikan agama ini bisa menyiapkan peserta didik berkualitas. Mampu hidup dengan benar di tengah perkembangan jaman.

     

    Masyarakat memberikan kepercayaan menyerahkan anak mereka pada sekolah. Ini dengan harapan agar anak dapat memiliki karakter bernilai luhur ajaran Buddha serta tidak terkena dampak negatif perkembangan dunia.

     

    Seorang guru agama Buddha, perannya bukan lagi sebagai sekadar sumber materi belajar. Melainkan menjadi fasilitas siswa untuk memperdalam berbagai ilmu pengetahuan. Juga berperan sebagai motivator serta inspirator anak didik.

     

    Pengertian Profesi Guru Agama

    Guru agama Buddha merupakan salah satu profesi di Indonesia. Untuk menjadi

    pendidik (PAB) diperlukan mengambil pendidikan keagamaan di perguruan tinggi sampai lulus menjadi sarjana sekaligus guru pendidikan agama.

     

    Seorang pendidik memiliki prinsip sebagai profesi. Prinsip-prinsip tersebut dituangkan pada UU Nomor 14 tahun 2005, yaitu:

    1. Mempunyai minat, bakat, idealisme dan panggilan jiwa.
    2. Mempunyai komitmen meningkatkan mutu pendidikan, akhlak mulia, ketakwaan dan keimanan.
    3. Mempunyai kualifikasi akademik serta latas belakang pendidikan yang sesuai.
    4. Mempunyai kompetensi sesuai dengan bidang tugas.
    5. Mempunyai tanggung jawab melaksanakan tugas.
    6. Mendapatkan penghasilkan sesuai prestasi kerja.
    7. Mempunyai kesempatan mengembangkan keprofesionalan.
    8. Adanya jaminan perlindungan hukum.
    9. Adanya organisasi profesi untuk mengatur hal-hal berkaitan dengan tugas guru.

     

    Jika mengacu pada kehidupan Buddha Gotama, merupakan figur guru yang sangat ideal. Gotama berdedikasi dalam menebar Dhamma indah di awal, di pertengahan, dan indah pada akhirnya.

     

    Gotama selama 45 tahun membabarkan Dhamma. Pada banyak makhluk hidup di antaranya manusia, dewa, ataupun brahma. Keberhasilan beliau dapat dilihat dari keberhasilan siswanya mencapai kesucian Arahat.

     

    Standar Kompetensi Pendidik

    Seorang pendidik memiliki tugas utama berupa mengajar, mendidik, mengarahkan, membimbing, melatih, mengevaluasi dan menilai. Permendiknas Nomor 16 tahun 2007 ada empat kompetensi yang wajib dipahami dan dihayati, yaitu:

    1. Kompetensi pedagogik
    2. Kompetensi sosial
    3. Kompetensi kepribadian,
    4. kompetensi professional

     

    Standar kompetensi bertujuan untuk jaminan dikuasainya tugas utama pengajaran sehingga dapat dilaksanakan secara professional. Guru agama Buddha juga nantinya mampu dibina, melayani pihak berkepentingan sesuai bidangnya.

     

    Berdasarkan Buddhisme, seorang pendidik wajib memberikan intruksi jelas pada siswa. Serta juga harus mau mengulang materi agar siswa memahami, melatih keterampilan berguna untuk siswa-siswi, memberikan rasa keamanan.

     

    Berlandaskan akan tugas tersebut, pendidik bukan hanya terikat pembelajaran namun juga di luar pembelajaran. Agama pun turut serta memberikan penjelasan penting agar meningkatkan kompetensi diri terhindar dari tercela.

     

    Tidak akan tercela bila guru menguasi materi, mempunyai moralitas yang kemudian mengajarkannya pada siswa. Melalui kriteria di atas, ilmu dan moralitas adalah dua hal penting untuk dimiliki guru agama Buddha.

     

     

  • Bodhisattva Theravada dan Mahayana, Pengertian Perbedaannya

    Bodhisattva Theravada dan Mahayana, Pengertian Perbedaannya

    Bodhisattva Theravada dan Mahayana, Pengertian Perbedaannya

    Ada dua aliran besar dalam ajaran Buddha. Terdapat perbedaan antara Bodhisattva Theravada dan Mahayana.

    Dalam dua aliran, ada banyak sub aliran beraneka ragam cara praktik ritualnya. Setiap aliran memiliki kitab suci sendiri serta pengikut. Namun Theravada dan Mahayana merupakan dua aliran terbesar.

    Tetapi, pada jaman Sang Buddha, Theravada, Mahayana dan berbagai macam aliran tidak ada. Semua ajaran Sang Buddha disebut sebagai Buddhasasana. Berdasarkan sejarah, pandangan sekte mulai bermunculan setelah Sang Buddha Parinibbana.

    Meski begitu, Bodhisattva Theravada dan Mahayana memiliki kesamaan yaitu menghormati Buddha Gotama dan mempraktikkan ajarannya. Dua aliran ini sama-sama adanya seorang Bodhisattva, makhluk yang mendedikasikan diri untuk kebahagiaan orang lain.

    Calon Buddha  atau Bodhisattava dalam bahasa Sansakerta terdiri atas dua kata, yaitu Bodhi dan Sattwa. Bodhi artinya pencerahan atau penerangan, dan Sattwa artinya makhluk hidup.

    Bodhisatwa pada ajaran Mahayana

     

    Setelah Buddha, hal terpenting dalam ajaran Mahayana adalah Bodhisattva. Menurut pandangan Mahayana, seorang Bodhisattva akan memiliki cinta penuh kasih ditujukan membantu seluruh umat demi menuju puncak tertinggi.

     

    Motivasi yang demikian dikenal dengan sebutan bodhicitta. Bodhicitta sebagai pikiran yang tersadarkan memiliki maksud untuk membangun kehidupan, dengan tujuan membantu orang lain. Ini bukan sekadar perasaan, emosi, atau sentimental.

     

    Terdapat perbedaan Bodhisattva Theravada dan Mahayana. Dalam ajaran Mahayana, seorang Bodhisattva mengambil sumpah tidak untuk masuk ke dalam nirwana, sebelum semua mencapai sikap Buddha. Bodhisattva merupakan panutan semua umat Buddha.

     

    Makna hal di atas adalah menunda masuk nirwana dan memilih turun ke bumi. Bodhisattva mengorbankan diri membantu makhluk lain mendapatkan pencerahan. Dikenal dengan sifat welas asih, tidak egois, rela berkorban.

     

    Bodhisatwa pada ajaran Theravada

    Perbedaan Bodhisattva Theravada dan Mahayana yang lain adalah, menurut tradisi Theravada, Arahat adalah makhluk hidup yang mencapai pada pencerahan, bukan Buddha. Bodhisatwa menggunakan bahasa Pali di kitab Pali Canon.

     

    Hal ini ditujukan Buddha untuk menunjuk dirinya sendiri. Di kehidupan sebelumnya serta kehidupan sekarang yang sedang melangkah menuju pencerahan, ketika masih berada dalam jalan pembebasan.

     

    Dalam kitab Jataka, Siddharta Gautama dikehidupannya tercatat sebagai seorang Boddhisattva. Di samping itu, menurut kitab Pali Canon, seorang Boddhisattva yang sering disebut adalah Buddha Maitreya.

     

    Karena itulah, yang terkandung diajarkan Theravada tidak menceritakan Boddhisattva selain Maitreya. Pada kitab Pali Canon dan tradisi Theravada, tidak dijelaskan bahwa seorang Boddhisattva membuat janji tidak akan sampai pada penerangan.

     

    Bahkan jika tetap membuat janji, Boddhisattva menurut Theravada akan mencapai penerangan bersama-sama dengan orang lainnya. Inilah Bodhisattva Theravada dan Mahayana, di mana letak perbedaan ada pada pencapaian penerangan.

     

    Keyword: Bodhisattva Theravada dan Mahayana

    Diskripsi: Ada banyak sub aliran beraneka ragam cara praktik ritualnya. Letak perbedaan Bodhisattva Theravada dan Mahayana ada pada pencapaian penerangan.

  • Keyakinan Menurut Agama Buddha, Pelajaran Kelas X

    Keyakinan Menurut Agama Buddha, Pelajaran Kelas X

    Keyakinan Menurut Agama Buddha, Pelajaran Kelas X

    Keyakinan menurut agama Buddha sangat penting. Yakin terhadap Buddha, Dharma dan Sangha haruslah dimiliki. Ini penting untuk pengembangan dan pelatihan batin agar dapat membawa kebahagiaan.

    Menurut Anguttara Nikaya III 206, kepercayaan termasuk ke dalam salah satu dari lima ‘kekayaan’ seorang umat Buddha. Anguttara Nikaya III 127 juga menyebutkan umat Buddha mengembangkan keyakinannya.

    Saddha atau rasa yakin berdasarkan Jalan Mulia Berunsur Delapan dapat membentuk pikiran benar dengan pengembangan diri. Jadi kepercayaan merupakan bentuk pelatihan pikiran, lalu dikembangkan dengan pikiran diri sendiri.

    Oleh sebab itu, kepercayaan merupakan aspek penting yang mendukung pikiran benar. Selain itu, dapat mendorong diri membuktikan ajaran agama. Digambarkan oleh Nagarjuna, sebuah keyakinan mendahului pemahaman.

    Meski begitu, ini bukan sekadar keyakinan belaka. Untuk sampai di titik pencerahan sebagai makhluk suci (arahat), keragu-raguan perlu dilenyapkan. Yakin terhadap Dharma perlu ditingkatkan.

    Ciri-Ciri Keyakinan Menurut Ajaran Buddha

    Dalam keyakinan menurut ajaran Buddha, terdapat dua ciri keyakinan, yaitu:

    1. Membuka pandangan

    Yang dimaksud dengan membuka pandangan adalah berkeyakinan dengan mendasarkan pikiran yang terbuka terhadap ajaran lain. Membuka pandangan dengan kebijaksaan agar terhindar dari sikap fanatik berlebihan berasal dari ego sendiri.

     

    Dibutuhkan satu pandangan benar dan sejalan dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Pandangan benar ini nantinya akan membuka penglihatan suci tidak ternoda dan berakhir pada pencerahan sejati.

     

    1. Praktik

    Ciri kedua merupakan bentuk rasa yakin dalam agama. Praktik berdasarkan keyakinan bisa dilakukan melalui aksi nyata. Aksi tersebut adalah bentuk implementasi ajaran dalam ucapan, perbuatan dan pikiran benar.

     

    Moralitas dilakukan sebagai bentuk dari rasa yakin. Praktik bisa diwujudkan dari ritual agama. Ritual sendiri dapat meningkatkan yakin sebagai perenungan dan pengembangan pikiran penuh cinta kasih, kebijaksanaan dan welas asih.

     

     

     

    Sudut Pandang Keyakinan Menurut Ajaran Buddha

     

    Keyakinan menurut ajaran Budda Saddha memiliki tiga objek:

     

    1. Buddha
    2. Dharma
    3. Sangha

     

    Rasa yakin pada agama merupakan perwakilan kepercayaan terhadap seorang guru yang perlu diteladani. Beliau memberikan contoh dengan ucapan yang baik, perilaku yang benar, dan pikiran positif.

     

    Selanjutnya, yakin terhadap Dharma adalah kepercayaan terhadap ajaran Buddha yang dilakukan melalui tindakan nyata. Sedangkan yakin terhadap Sangha berupa wujud kesanggupan tiap-tiap orang mencapai pencerahan seperti Buddha.

     

    Ciri –ciri dan sudut pandang merupakan unsur penting dalam keyakinan menurut ajaran Buddha. Hal ini selain bertujuan untuk memperdalam keyakinan, juga memperdalam pemahaman umat Buddha.

     

     

    Keyword: Keyakinan Menurut Ajaran Buddha

    Diskripsi: Ciri –ciri dan sudut pandang merupakan unsur penting dalam keyakinan menurut ajaran Buddha untuk memperdalam keyakinan, juga memperdalam umat Buddha.

     

  • Dua Sekte Buddha; Aliran Hinayana dan Aliran Mahayana

    Dua Sekte Buddha; Aliran Hinayana dan Aliran Mahayana

    Dua Sekte Buddha; Aliran Hinayana dan Aliran Mahayana

    Mahayana dan Hinayana merupakan dua sekte Buddha yang mempunyai perbedaan dalam konsep religius. Agama ini dimiliki oleh beberapa rakyat Indonesia dan diakui oleh Pemerintah melalui Undang-Undang.

    Agama ini adalah sebuah agama dan filsafat yang berasal dari India. Mencakup beragam tradisi kepercayaan dan praktik yang dikaitkan dengan Sidhartha Gautama, dikenal sebagai  Buddha Gautama.

    Dua sekte terbesar adalah Mahayana dan Theravada atau Hinayana. Aliran ini memiliki persamaan yaitu melepaskan umat manusia dari Samsara. Mahayana dan Hinayana juga mengikuti ajaran Buddha Gautama.

    Secara harfiah, aliran Mahayana diartikan sebagai ‘Pengembara dengan kendaraan lebih besar’. Sedangkan aliran Hinayana secara harfiah memiliki arti sebagai ‘Pengembara dengan kendaraan yang lebih kecil’

    Sekte Hinayana

    Hinayana merupakan salah satu dari dua sekte Buddha yang percaya bahwa Sang Buddha hanya seorang manusia biasa seperti orang lain. Tidak ada kaitan karakteristik ketuhanan.

    Prinsip-prinsip yang Hinayana ikuti mendasari pada kanon Pali. Aliran Hinayana lebih menekankan pentingnya empat Kebenaran Mulia dan Jalan Berunsur Delapan. Inilah sebab mengapa Hinayana dianggap mengikuti ajaran agama.

    Hinayana menganggap seorang mengikuti jalan Bodhisattva sebelum menjadi Buddha. Para penganut tidak percaya jika hanya Bodhisattva yang mempraktikkan sepuluh sikap menjangkau-jauh. Ini yang membedakan dari dua aliran tersebut.

    Penganut Hinayana memaknai kegembiraan tidak terukur sebagai kegembiraan dalam kebahagiaan orang lain tanpa iri hati. Lalu mengartikan keseimbangan batin hasil dari welas asih, cinta, dan kegembiraan bersama.

    Sekte Mahayana

    Satu dari dua sekte Buddha adalah Mahayana. Gagasan Mahayana merupakan tentang ketuhanan dalam agama. Buddha adalah dewa utama, karena itu penganutnya menyembah Buddha sebagai dewa.

    Mahayana mempercayai versi cerita dari Jataka mengenai lahirnya Shakyamuni sebelum jadi seorang Bodhisattva. Bagi penganut aliran Mahayana, akan ada seribu Buddha yang datang  memulai agama universal.

    Mahayana menganggap setiap orang dapat menjadi Buddha. Hal ini disebabkan fakta bahwa setiap orang memiliki berkah sifat dari-Nya. Menurut Mahayana, hanya Bodhisattva yang bisa mempraktikkan sepuluh sikap menjangkau-jauh.

    Sepuluh sikap tersebut; kemurahan hati, keterampilan sarana, kesabaran, disiplin, stabilitas mental, ketekunan, penguatan, kesadaran dalam, doa penuh aspirasi dan kesadaran pembeda. Aliran Mahayana memiliki penafsiran sendiri untuk doktrin tidak jelas.

    Ada perbedaan dalam perlakuan terhadap kegembiraan dan keseimbangan batin yang tak terukur antara dua sekte Buddha Mahayana dan Hinayana. Namun, terdapat kesepakatan yang sama dalam definisi cinta dan welas asih.

     

    Keyword: Dua Sekte Buddha

    Diskripsi: Mahayana dan Hinayana merupakan dua sekte Buddha yang mempunyai perbedaan dalam konsep religius. Namun, ada konsep sama dalam cinta dan welas asih.